Dalam pengajian sering diungkapkan contoh perilaku hewan yang buruk, yang tidak boleh dicontoh. Misalnya, jangan seperti lalat yang suka hinggap di tempat yang kotor. Jadilah seperti lebah yang suka tempat-tempat yang bersih. Atau jangan pula jadi seperti babi yang suka makan yang kotor-kotor. Namun, salah satu jamaah kurang setuju dengan pendapat seperti ini. Sebab dalam dunia hewan itu tidak ada perilaku buruk dan baik. Semua hewan itu berperilaku sesuai dengan nalurinya. Dalam dunia hewan ganti-ganti pasangan adalah hal biasa, dan ini tidak bisa dikatakan perilaku buruk. Secara ekologis, setiap hewan itu mempunyai fungsi masing-masing. Sebagai contoh, babi yang suka makan kotor-kotor itu mempunyai fungsi antara lain mempercepat penguraian sampah sehingga sampah tidak cepat menumpuk. Lalat yang suka hinggap di tempat kotor juga mempunyai fungsi yang sama pula. Jika salah satu mata rantai musnah, maka keseimbangan alam akan terganggu. Misalnya, mengganasnya hama wereng, dikarenakan predatornya jumlahnya berkurang banyak akibat salah kelola dari manusia. Ringkasnya, setiap hewan berperan dalam kelestarian hidup di bumi ini secara berkelanjutan.
Perhatikanlah hikmah yang luar biasa ketika Allah memberi hewan ternak raga yang lebih besar dari badan manusia namun memberikan sedikit akal saja kepada hewan-hewan itu, supaya manusia dapat menundukkan dan mengarahkannya ke manapun ia suka. Seandainya hewan-hewan itu diberi akal dengan jasad yang besar seperti itu, tentu ia tidak mau tunduk kepada manusia. Hewan-hewan ternak itu diberi sedikit pemahaman yang cukup untuk membantu pemenuhan kebutuhannya dan kebutuhan manusia, tapi tidak diberi akal seperti manusia. Dengan penundukan itu, manusia memusatkan diri kepada maslahat-maslahat kehidupan dan akhiratnya. Kalau manusia melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan hewan, tentu tidak dapat menyelesaikan banyak pekerjaan lain. Karena, tidak cukup satu orang untuk membawa muatan seekor unta. Untuk melakukan pekerjaan seperti ini diperlukan beberapa orang, dan kadang mereka tetap saja tidak mampu. Tentu saja itu menghabiskan waktu dan menghalangi mereka menyelesaikan banyak urusan. Maka, mereka dibantu dengan hewan-hewan ini, di samping hewan-hewan itu juga punya faedah dan manfaat yang tidak terhitung kecuali oleh Allah.Memang benar bahwa hewan berbuat itu berdasarkan instink yang telah dianugerahkan oleh Allah. Mereka tidak dikaruniai akal sebagaimana manusia. Mereka makan hanya bertujuan agar mereka bisa bertahan hidup. Mereka bereproduksi hanya bertujuan untuk kelangsungan generasi. Perilaku hewan yang hanya berdasarkan instink itu, tidak sesuai dengan manusia yang diberi akal. Makanya, manusia yang berbuat seperti hewan mempunyai nilai moral yang rendah. Meskipun perilaku hewan itu tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam kacamata manusia, namun manusia dapat mempelajari sifat dan perilaku hewan. Perilaku hewan yang positif dalam kacamata tata nilai manusia dapat dijadikan pelajaran. Demikian pula, perilaku hewan yang negatif dalam kacamata tata nilai manusia dapat ditinggalkan. Kalau hewan saja bisa berperilaku positif, mengapa manusia tidak bisa?
Perhatikanlah hikmah yang luar biasa ketika Allah memberi hewan ternak raga yang lebih besar dari badan manusia namun memberikan sedikit akal saja kepada hewan-hewan itu, supaya manusia dapat menundukkan dan mengarahkannya ke manapun ia suka. Seandainya hewan-hewan itu diberi akal dengan jasad yang besar seperti itu, tentu ia tidak mau tunduk kepada manusia. Hewan-hewan ternak itu diberi sedikit pemahaman yang cukup untuk membantu pemenuhan kebutuhannya dan kebutuhan manusia, tapi tidak diberi akal seperti manusia. Dengan penundukan itu, manusia memusatkan diri kepada maslahat-maslahat kehidupan dan akhiratnya. Kalau manusia melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan hewan, tentu tidak dapat menyelesaikan banyak pekerjaan lain. Karena, tidak cukup satu orang untuk membawa muatan seekor unta. Untuk melakukan pekerjaan seperti ini diperlukan beberapa orang, dan kadang mereka tetap saja tidak mampu. Tentu saja itu menghabiskan waktu dan menghalangi mereka menyelesaikan banyak urusan. Maka, mereka dibantu dengan hewan-hewan ini, di samping hewan-hewan itu juga punya faedah dan manfaat yang tidak terhitung kecuali oleh Allah.Memang benar bahwa hewan berbuat itu berdasarkan instink yang telah dianugerahkan oleh Allah. Mereka tidak dikaruniai akal sebagaimana manusia. Mereka makan hanya bertujuan agar mereka bisa bertahan hidup. Mereka bereproduksi hanya bertujuan untuk kelangsungan generasi. Perilaku hewan yang hanya berdasarkan instink itu, tidak sesuai dengan manusia yang diberi akal. Makanya, manusia yang berbuat seperti hewan mempunyai nilai moral yang rendah. Meskipun perilaku hewan itu tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam kacamata manusia, namun manusia dapat mempelajari sifat dan perilaku hewan. Perilaku hewan yang positif dalam kacamata tata nilai manusia dapat dijadikan pelajaran. Demikian pula, perilaku hewan yang negatif dalam kacamata tata nilai manusia dapat ditinggalkan. Kalau hewan saja bisa berperilaku positif, mengapa manusia tidak bisa?
